STOP SEBARKAN KENGERIAN
Pernahkah anda
menerima kabar kecelakaan di salah satu grup whatsapp anda, atau bahkan di
media sosial yang anda miliki? Kabar kecelakaan tersebut disertakan gambar
mayat korban yang berlumuran darah, bahkan dengan kondisi badan sudah tidak
utuh. Atau ada pula kabar duka yang dishare di dalam grup, kemudian disertai gambar
mayat yang sudah dibungkus kain kafan? Atau berita mayyat dibuang dan sudah
membusuk? Atau gambar bayi yang dibuang di tepi sawah? Dengan harapan akan
mengalir doa untuk si mayit.
Pengumuman
kematian tidak seharusnya disertai gambar yang bisa saja menurut sebagian orang
adalah hal yang mengerikan dan tidak pantas dilihat. Bisa saja sebagian orang
yang tidak sengaja melihat menimbulkan rasa trauma yang mendalam. Sah saja jika
mengumumkan kematian dengan mengharap doa, atau disholatkan dari jarak jauh
kepada penerima kabar. Cukup dengan menjelaskan identitas si mayyit kepada
penerima kabar.
Entah apa yang
menjadi tujuan menyebarkan kengerian. Bisa jadi muncul kepuasan tersendiri pada
penyebar berita. Terkadang si pemilik foto bukanlah seorang pemburu berita. Melainkan
hanya masyarakat biasa. Dengan kepemilikan foto kecelakaan misalnya, dia bisa
membanggakan kemahirannya dan keberaniannya mengambil gambar. Kemungkinan dia
juga menjadi orang yang dianggap faktual karena berhasil mendapat gambar
terbaru dari kondisi kecelakaan. Dan pada akhirnya menyebarkan ke grup yang dia
miliki.
Mencoba merefleksikan
kejadian ini pada diri sendiri. Jika yang menjadi korban kecelakaan atau si
mayyit adalah keluarga kita sendiri. Tentu akan sangat sulit menerima jika
gambarnya tersebar di mana-mana. Tentu akan sangat menyayat hati jika banyak orang
yang memiliki foto-foto keluarga kita yang berlumuran darah. Padahal hanya doa
dan semangatt yang kita butuhkan sebagai keluarga yang ditnggalkan.
Marilah bijak
dalam bermedia sosial. Jangan kalah dengan ponsel yang semakin pintar, sehingga
kepintaran kita justru dinomorduakan. Selain pintar hendaknya kita juga semakin
beradab. Tahu menghormati orang lain dengan segala kondisinya. Selalu memiliki
rasa empati, memposisikan diri kita pada kondisi dan keadaan orang lain.
Sekali lagi jika
kita mendapat kabar duka, cukup sebarkan kalimat permohonan maaf atas kesalahan
si mayit, memohonkan doa untuk si mayyit, memberi peringatan akan usia dan
kematian, memberi peringatan mengenai kehati-hatian. Hentikan gambar-gambar itu
cukup di kita, kemudian kita hapus. Tidak perlu kita ikut menjadi penyebar
kengerian.
Pujiatun,S.Pd
MTSN 4 BOGOR

Komentar