Ojo Rumongso Biso, Nanging Kudu Biso Rumongso
Pepatah
Jawa yang sangat dalam dan rasanya cukup sesuai jika ditempatkan pada fenomena
kehidupan masyarakat sekarang. Pepatah tersebut di atas memiliki makna yaitu,
manusia jangan merasa bisa, tapi bisalah merasakan.
Orang
jika sudah memiliki kekuatan, baik berupa kekuasaan dan kekayaan pada umumnya
akan merasa bisa sendiri. Mampu melakukan segala sesuatunya sendiri. Merasa
individualismenya tinggi hingga tak lagi merasa membutuhkan orang lain. Karena
orang semacam ini merasa dengan kekayaan dan kekuasaannya dia mampu
mengendalikan apapun. Bahkan orang-orang di sekitarnya.
Orang-orang
yang sudah merasa seperti ini akan terkungkung dengan dunianya sendiri. Yang
terbaik adalah pendapatnya. Yang benar adalah pemikirannya. Orang lain selalu
salah, orang lain selalu tidak benar. Sulit menerima masukan dari orang lain
dan cenderung keras hatinya. Orang dengan kondisi seperti ini akan sulit
menerima kebenaran dalam bentuk apapun.
Jika
sudah merasakan hal semacam ini, sebaiknya segera berbenah diri. Mengubah
menjadi orang yang bisa merasakan. Bisa merasakan menjadi orang lain. Bisa
memposisikan diri menjadi orang lain. Bisa berempati terhadap kondisi orang
lain. Pemikiran bukan lagi bagaimana diri ini. Tetapi bagaimana orang lain.
Pepatah
ini mendorong seseorang untuk memiliki sikap Tepa Slira. Dalam Bahasa
Indonesia identic jika disejajarkan dengan kata tenggang rasa. Dikutip dari https://kbbi.web.id/ tepa
salira/te·pa sa·li·ra/ a memiliki arti dapat merasakan (menjaga) perasaan
(beban pikiran) orang lain sehingga tidak menyinggung perasaan atau dapat
meringankan beban orang lain; tenggang rasa; toleransi: kita harus mempunyai
rasa -- terhadap sesuatu yang dirasakan dan diderita orang lain.
Setiap
perbuatan dan perkataan yang kita lakukan harus senantiasa memikirkan perasaan
orang lain. Apakah menyakiti orang. Akhirnya sopan santun menjadi tolak ukur
suatu perbuatan. Sopan santun menjadi tolak ukur kepantasan perkataan dan
perbuatan kita.
Sekilas
segala teori ini cukup rumit jika dilaksanakan. Akan tetapi bagi orang
Indonesia pada umunya yang masih memegang teguh nilai-nilai budaya masyarakat,
maka serangkaian teori ini bukanlah sesuatu yang perlu dipelajari. Mereka akan
dengan otomatis, seperti terlahirkan dengan material sikap dan sopan santun
serta tenggang rasa. Orang Indonesia terbiasa dengan sikap bisa merasakan dan
tidak dapat terkalahakan dengan sikap merasa bisa.
Oleh:
Pujiatun, S.Pd
MTsN
4 Bogor

Komentar